The Resilience Code: Kerangka Dasar Lima Pilar untuk Pembangunan Berkelanjutan
- Price in reward points: 1000
- Penerbit: Mitra Wacana Media
- Kode Produk: MWM000837
- Penulis: Ahmad Hidayat Sutawidjaya, Unang Toto Handiman, Erna Febriani
- ISBN: 978-602-
- Edisi: 1
- Tahun Terbit: 2026
- Jml Halaman: 468
- Berat: 800.00g
- Bahasa: Indonesia
- Dimensi: 17.00cm x24.00cm
- Ketersediaan: 10
The Resilience Code: A Pentuple Bottom Line Framework for Sustainable Development membahas kebutuhan akan paradigma pembangunan yang mampu menjawab ..
The Resilience Code: A Pentuple Bottom Line
Framework for Sustainable Development membahas kebutuhan akan paradigma
pembangunan yang mampu menjawab kompleksitas krisis global, keterbatasan model
pembangunan lama, serta berbagai tantangan keberlanjutan yang semakin saling
berkaitan. Buku The Resilience Code: Kerangka Dasar Lima Pilar untuk
Pembangunan Berkelanjutan ini berangkat dari kritik terhadap pendekatan
pembangunan yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan keterbatasan
kerangka keberlanjutan yang belum sepenuhnya mampu mengintegrasikan berbagai
dimensi pembangunan secara menyeluruh. Pembahasan diawali dengan perkembangan
pemikiran dari Triple Bottom Line, Quadruple Bottom Line, hingga Pentuple
Bottom Line, serta pengenalan The Resilience Code sebagai kerangka strategis
dan etis untuk membantu organisasi dan masyarakat menyerap guncangan,
beradaptasi terhadap perubahan, bertransformasi menghadapi krisis sistemik,
serta meregenerasi modal alam dan modal sosial. Resilience Code menekankan
karakteristik yang integratif, transformatif, regeneratif, dan kontekstual.
Buku ini juga membangun fondasi ilmiah keberlanjutan melalui pembahasan
mengenai ekosistem sebagai sistem terbuka dan disipatif, jasa ekosistem, termodinamika,
entropi, eksergi, fungsi disipatif, serta pendekatan meta-modeling untuk
mendukung penilaian keberlanjutan secara lebih holistik dan dinamis. Kerangka
Pentuple Bottom Line (PBL) kemudian dikembangkan sebagai pendekatan
multidimensional yang menghubungkan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, tata
kelola, dan jaringan/resiliensi. Pembahasan dilanjutkan pada perencanaan
ketahanan pemerintah daerah, pengelolaan jasa ekosistem, modal sosial, strategi
keberlanjutan UKM dan klaster, keterlibatan multipemangku kepentingan,
Collective Impact, serta berbagai alat dan indikator untuk mengukur kinerja
keberlanjutan.
